Kabar dari Yangon (3)

Februari di Jakarta sering turun hujan. Curah hujan tiap tahun, biasanya senantiasa memuncak di bulan ini. Penataan kota yang ampe sekarang masih amburadul, belum bisa tertangani tangan terampil, otak cemerlang, semangat kuda, serta moral yang utama dari anak bangsa, rasanya masih perlu waktu panjang untuk bisa dinikmati keberadaannya secara manusiawi. Orang perlu hidup tanpa banjir. Orang perlu enjoy tanpa macet, tanpa crime. Itu mungkin cuma ada dalam obsesi atau BBS (bobo-bobo siang) yang dihiasi mimpi indah lagi…….

Dari jauh kemonitor berita di tanah air, plus minus banjir… banjir…. terussss. Abis mo gimana lagi, susah bro ngebenahinnya. Padahal di Yangon, bulan ini hawanya masih enak di badan. Februari, sebagai mana yang udah-udah, adalah bulan terakhir musim dingin. Dingin doang sih, gak ampe ada salju.

Gak terasa setelah 7 bulan di Yangon, bisa disimpulkan kalo di sini, enak buat tinggal. Pers barat emang sering rada miring ngeberitain tentang negeri ini. Itu karena mereka gak ‘sreg’ atau gak suka kalo yang namanya tentara itu koq ngatur negara. Uuuupppsss, …. that’s politic, stop talking that. Orang boleh jalan kemana aja, tanpa rasa takut ada copet di bis, tanpa tatapan mata usil, bibir nyinyir dari mereka yang kecemsos (baca: kecemburuan sosial). No crime here. Kalo pun ada itu rationya rendah sekali. Of course, there’s no place even omitted from a vivid of crime. But, you really can feeling secure here. Sepanjang tidak memasuki ranah politik. That’s it.

Korupsi gimana? Weehhhh…. kalo yang ntu sih jangan ditanya bro. Sikat abis, kumaha èngkè wae. Mungkin mirip-mirip situasi masa orba dulu, kondusif dan permisif. Ini contoh kasus: Buat orang Indonesia pasti tau lah yang namanya mobil Suzuki Karimun, di Myanmar namanya Suzuki Wagon. Cuma beda nama, tapi semuanya serba pleg sama dan sebangun. Bedanya, yang satu di Khatulistiwa, yang lainnya di pinggirian benua Asia, belah pojok ASEAN. Satu lagi bedanya, kalo di sono mungkin harganya Rp. 70an juta (harga baru OTR, equal to US$ 7an rebu), di sini harganya US$ 50 rebu. Bujug buneng…. itu ungkapan orang betawi kalo kaget ampe kelojotan. Konon katanya sih, dari pabrik asemblingnya harganya Cuma US$ 5 rebu. Selebihnya….. terserah yang mbaurekso dong. Corruption makes lies. Ya iyalah……

Orang Myanmar bisa dibilang 90% Budhist. Mereka rata-rata taat dan patuh menjalankan ajaran agama. Hebatnya lagi, ajaran agama diaplikasikan dalam praktek hidup keseharian. Mereka ikhlas, ridho menerima kenyataan pahit di negerinya. Mereka tau kalo di buminya itu penuh dengan harta berlimpah yang gak bakal habis dimakan 700 turunan. They have everything here. Myanmar juga salah satu lumbung padi terbesar di Asia. Di sini jangan takut kelaparan. Cara primitif aja orang bisa hidup. Bisa makan enak, bergizi dan higienis. Alam menyediakannya.

Penguasa Myanmar cuek budeg mo diembargo siapa aja keq, apa aja keq, berapa lama keq, sebodo teuing…. emangnye gue pikirin. Tanpa perlu diembargo, negeri ini agak-agaknya emang menutup diri dari dunia luar.

To be continued …….

Memilih takdir

Takdir adalah ketentuan ilahi yang pabila telah jatuh, menjadi niscaya dan tak terelakkan. Ada takdir baik ada takdir buruk. Semua itu mutlak kehendak ilahi. Tinggal bagaimana manusia menyikapinya. Ketika disadari bahwa itu semua adalah cobaan dari Sang Pencipta, maka yang patut dilakukan adalah mensyukurinya.

Manusia boleh memilih takdirnya sendiri. Oleh karenanya, pilihlah takdir yang enak2 saja. Yang menyenangkan buat kita. Jangan mau memilih takdir yang jelek, gak enak, nyusahin dan bikin sengsara.

Ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga tuk meraihnya, semaksimal mampu kita mengupayakannya, agar takdir menjadi lebih baik, menjadi seperti yang diinginkan, ternyata yang terjadi malah sebaliknya, itu menjadi ujian buat kita. Belajarlah mensyukuri musibah yang kita terima dan alami. Memang berat pada awalnya. Tetapi ketika kita sudah membiasakannya, tanpa disadari, anda telah menjadi manusia istimewa di mata Sang Khalik. Subhanallah.

“No Sacrifice, No Victory”

Dalam hidup orang selalu dihadapkan pada pilihan. Untuk mentukan pilihan, terkadang diperlukan proses panjang serta berbagai pertimbangan matang. Pilihan, mestinya merupakan sesuatu yang finally dianggap terbaik oleh si pemilih. Dan ketika pilihan tersebut diaplikasikan, jangan kaget apabila terjadi hal2 yang di luar perhitungan sebelumnya. Itulah resiko dari pilihan.

Waktu dapat tawaran bekerja di luar negeri, gue dihadapkan pada satu pilihan: you can take it or leave it. Kalo diambil nanti bisa begini begitu bla bla bla…. dstnya. Kalo gak diambilpun akan begini begitu bla bla bla…. dstnya.

Kerja di luar negeri, itu artinya akan dapat pengalaman baru, pengetahuan baru, dan yang nggak kalah menariknya, digajih dolar. Satu dolar aja dapat gajih itu artinya 9.100 rupiah. Konon lagi kalo gajihnya ribuan dolar, opo gak bikin ngiler rek, yo opo sih…. (Suroboyoan).
Bayangan bakal dapat gajih gede jadi motivasi kuat, pendorong utama. Akhirnya gue pilih: I’ll take it.

Singkat cerita, tiba di negeri seberang. Menjalani hidup baru, kerja baru, pengalaman baru, lingkungan baru dan gajihnya juga baru, dolar lagi…..
Tapi apa lacur…. yang namanya orang kerja digajih mahal, tentu harus diimbangi dengan pekerjaan yang ekstra keras pula. Tanggung jawabnya pun lebih berat juga. Itulah resiko atas pilihan. I take my risk.

Tantangannya sekarang, gue mesti survive, mesti tabah menjalani, mesti siap menanggung segala resiko. Buat elo2 pade yang pernah nonton film berjudul “Transformer”, ada pesan menarik yang bisa didapat, pesannya gini: “No Sacrifice, No Victory”.

(Terima kasih untuk anakku tercinta, Ageng Raditya. I luv u son, I miss u…. Inilah pengorbanan kita, pisah sementara untuk bekal masa depan kita…. BRAVO)

Lebaran di Yangon

Rabu, 1 Oktober y.l. bertepatan dengan hari raya Iedul Fitri 1429 H. Orang2 Indonesia yang ada di Yangon, Myanmar, baik yang muslim maupun yang non rukun bersatu merayakan lebaran dengan khidmat penuh sukacita. Nuansa lebaran ala Indonesia bisa dirasakan di sekitar KBRI Yangon. Gema takbir yang diputar dari DVD player mulai berkumandang sejak ba’da maghrib hingga larut malam. Sajian ketupat dan aneka penganan Indonesia disiapkan oleh Keluarga Dubes RI dan DWPnya. Pagi satu Oktober diawali dengan sholat ied. Usai sholat dilanjutkan dengan silaturahmi. Bersalam-salaman, makan ketupat, anak2 berbaju baru, angpau, gema takbir….. Allahuakbar….. Allahuakbar…… Allahuakbar….. Lailahillahuwallahuakbar….. Allahuakbar walillahilhamd…..

Lebaran adalah hari yang istimewa buat orang Indonesia. Bangsa lain gak punya hari lebaran. Cuma kita yang punya. Walau hanya sehari dalam setahun, tapi orang Indonesia sejagat raya ikut merayakannya. SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1429. MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN KEPADA SELURUH BLOGGERS SEJAGAD RAYA.

It’s a great story……it is true….

Aku dapat email dari ponakanku. Ponakanku dapat email dari temannya. Temannya dapat email dari temannya lagi. Begitu seterusnya. Kemudian aku berinisiatip menyampaikan kisah ini di blogdetikku agar bisa diketahui orang banyak karena ada pesan moral sebagai bahan renungan buat kita semua. Ini cerita nyata seseorang yang sungguh sangat menyentuh. Silahkan baca dan untuk dihayati.

Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan,
“Apa yang telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?” atau
“Kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?”

Here is a wonderful explanation. ..
Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak
berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek
dalam raport; putus dengan pacarnya; dan sahabat terbaiknya pindah ke
luar kota .

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah
anaknya mau mencicipinya.
Dengan senang hati si anak berkata: “Tentu saja, I love your cake.”
“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan.
“Yaiks,” ujar anaknya.
“Bagaimana degan telur mentah?”
“You’re kidding me, Mom.” Si anak mencibir.
“Mau coba tepung terigu atau baking soda?” Lanjut ibunya.
“Mom, semua itu menjijikkan.” Si anak makin merengut dibuatnya.

Lalu Ibunya menjawab: “ya….., semua itu memang kelihatannya tidak enak jika
dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses
yang benar, maka akan menjadi kue yang enak.”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita
bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak
menyenangkan.
Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu
per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi
sempurna tepat pada waktunya.
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk
menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita.
Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi, oxygen melimpah untuk kita hirup tanpa biaya sesenpun jua.
Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan.
Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya.
Dia ada di setiap tempat, dan
Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Hujan angin di Yangon

Bulan Agustus merupakan bulan penuh curah hujan di Yangon. Curah hujan setiap harinya cukup dahsyat. Mulai pagi, siang, sore, malam hingga pagi lagi, hujan terus2an. Curah hujan dengan debit air cukup tinggi disertai pula tiupan angin kencang. Bedanya hujan di Yangon dengan di Jakarta, di Yangon, selebat apapun hujan yang turun nggak pernah disertai guntur, geledek atau petir. Dan nggak pernah menimbulkan banjir. Boljug kan?

Aktivitas masyarakatnya terus berlangsung seperti biasa. Hujan bukan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari mencari kehidupan. Mereka nampak enjoy betul menikmati musim hujan yang berlangsung hanya sebulan dalam setahun. Demikian pula kaum remajanya, biar hujan kaya apapun lebatnya, pacaran jalan terus. Di taman2 kota dan tempat2 hiburan umum nampak para kaula muda tetap berasyik masyuk di tengah lebatnya hujan. Kissing in the rain. Wah, romantis banget tuh kedengarannya. Edaaannnn tenant.

Memasuki bulan September hujan mulai mereda. Minggu awal September hujan masih juga turun, tapi hanya sesekali aja. Terkadang dalam sehari cuma sekali hujannya. Itupun nggak terlalu lama.

Selesai musim penghujan, suhu udara di Yangon masih terasa panas pada siang hari. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 28 s.d. 32 derajat Celcius. Malam hari suhu turun menjadi antara 26 s.d. 30 derajat Celcius. Buat orang2 Indonesia, suhu udara kaya gitu tentu terasa nggak terlalu beda banget di badan. Bagi yang ingin melancong ke Yangon disarankan sebaiknya pada bulan2  Oktober s.d. Desember, karena pada bulan2 itu hawanya cukup sejuk dan nyaman.

To be continued……

Kabar dari Myanmar (2)

Ketika ada bayangan jelas punya kans untuk kerja di Myanmar, naluri intel gue mulai kerja. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang negeri ini. Kemana lagi kalo bukan ke internet. Zaman sekarang internet memang jadi tumpuan sumber informasi. Segala sisi informasi tentang apa aja bisa dicari di internet.

Sibuk selancar, ngebrowse sana sini, maka terkumpullah berbagai informasi yang dimaui. Barangkali aja akan ada gunanya untuk bekal di medan juang. Informasi terkumpul dicopy-paste, kalo perlu diprint sekalian. Dari info yang gue dapet tentang Myanmar kayanya mengesankan kalo Myanmar itu suram, seram, terbelakang, dlsb. Pokoknya kebanyakan infonya miring2, jarang yang lurus lempeng begitu. Kemudian gue crosscheck ke sumber resmi dari pihak Indonesia, apalagi kalo bukan KBRI. Lumayan, buat bahan pembanding. Soal kebenaran atas segala info tentu harus dibuktikan di lapangan. Who knows?

Hari ini, setelah lebih dari sebulan gue di Yangon, ternyata info2 yang gue dapat dari internet tempo hari tentang negeri ini banyak yang sampah, nggak bener alias keliru atau ngapusi. Bayangan tentang Myanmar yang seram, junta yang bengis pating seliwer kesana kemari di jalanan, gak boleh bawa kamera di jalan, gak boleh bawa laptop di tempat umum, dlsb. Ternyata itu semua ngibul berat bro.

Kasihan banget ya negeri orang diinfokan palsu kaya gitu. Mungkin kurang lebih persis kaya negeri kita, Indonesia, yang dikenai travel warning oleh negara-negara Amerika dan Eropa. Pers barat memang terbukti sering jahat dan tendensius.

Di Yangon khususnya dan Myanmar pada umumnya, situasi aman terkendali. Di sini, yang namanya tentara itu hampir bisa dibilang gak ada yang keluyuran di jalan2. Malah di Jakarta kita sering ngeliat tentara keluyuran, nyampe ke mall2 segala lagi.

Di Yangon, segala macam kebutuhan hidup yang materialistik ada tersedia. Sama dengan di kota2 besar lainnya di dunia. Mulai dari ATK, komputer, barang/peralatan elektronik mutakhir yang canggih2, mobil mewah, hotel bintang, ada semua.

Myanmar bukan negeri yang harus ditakuti untuk dikunjungi. Myanmar bukan negara yang masih primitif, sehingga orang susah mendapatkan apa aja untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

To be continued……..

Pemburu dolar

Ini beneran bro. Saat ini gue lagi ngejalanin hidup sebagai pemburu dolar. Jauh-jauh merantau ke negeri orang, meninggalkan sanak keluarga di tanah air semata demi dolar. Naif nggak sih kalo kaya gitu? Wah, menurut gue sih sah-sah aja. Kesempatan emas itu jarang terulang dua kali dalam hidup ini. Kenapa sih mata uang yang satu ini koq kaya nya berpengaruh banget di planet bumi ini. Ada semacam perasaan dendam dalam diri, suatu saat kelak, pabila kesempatan datang menjelang, “si gondrong” pasti bakalan gue kejar.

“Si gondrong” itu istilah di kalangan temen2 gue untuk mata uang dolar amerika. Coba aja elo perhatiin, di duit dolar itu kan terpampang foto Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington. Rambutnya gondrong kan?

Alhamdulillah, akhirnya tiba jua peluang membentang buat gue untuk ngumpulin si gondrong sebanyak-banyaknya. Gue dapet kesempatan kerja di luar negeri, digajih dolar. Mampus luh gondrong. Jangan sok belagu lagi dah luh. Sekarang elo bisa gue kempit di dompet. Gue dudukin di bawah pantat. Emang enak…. Kasihan deh lo….

Insya Allah jika gak ada aral melintang selama kurun waktu 3 taon ke depan, si gondrong bakal gue karungin sebanyak-banyaknya. Bakal gue bawa pulang buat tambahan devisa ke dalam negeri. Amieennnnnn

Kabar dari Myanmar (1)

Hari masih cukup terang waktu gue nyampe di Yangon, Myanmar. Tepatnya tanggal 3 Agustus yang lalu. Berangkat pagi dari Jakarta (10.45), transit sebentar di Singapur, kemudian lanjut ke Yangon. Pk. 15.45 waktu setempat gue nyampe di Yangon, Myanmar.

Hari ini pas sebulan lamanya gue tinggal di Yangon, insya Allah kalo gak ada aral melintang, gue bakalan tinggal 3 taon di sini. Bukan waktu yang singkat memang. Tapi kalo ada bini selalu setia mendampingi….., rasanya semua bakalan OK.

Sejak di Yangon, baru hari ini gue coba posting lagi…. Oh….. I love blog…. I love u all bloggers

Selamat berpuasa bagi semua umat Islam sedunia yang tengah menjalani ibadah puasa tahun ini semoga Ramadhan tahun ini membawa berkah buat semua umat manusia di planet bumi ini…. Amieeennnnnnnn

Mampukan kita mencintai tanpa syarat?

Aku dapat email dari Istriku. Istriku dapat email dari temannya. Temannya dapat email dari temannya lagi. Begitu seterusnya. Kemudian aku berinisiatip menyampaikan kisah ini di blogdetikku agar bisa diketahui orang banyak karena ada pesan moral sebagai bahan renungan buat kita semua. Ini cerita nyata seseorang yang sungguh sangat menyentuh. Silahkan baca dan untuk dihayati.

Beliau usianya sudah tidak muda lagi, usia senja bahkan mendekati malam. Sebut saja Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya mengisi hidupnya dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikaruniai 4 orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan serasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudahtidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sore dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian. Selepas maghrib dia temani istrinya nonton TV sambil menceritakan apa2 saja yg dialami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, namun Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, mereka pisah tinggal dengan keluarga masing2. Sedangkan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawatnya. Yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kecil, kami menyaksikan bapak merawat ibu dan tidak pernah ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak pula mengijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya:
“Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.

Pak Suyatno hening sejenak seraya menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka:
“Anak2ku … jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian”.

Sejenak kerongkongannya tersekat, kemudian melanjutkan:
“Kalian yg selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak dapat dihargai dengan sesuatu apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sekonyong-konyong meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil air mata jatuh di pelupuk Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Pak Suyatno, sosok yang mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri istrinya yg sudah tidak bisa apa2 itu berpesan kepada kita semua:
“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya. Mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan hanya dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 … Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

Halaman Berikutnya »