Mampukan kita mencintai tanpa syarat?

Aku dapat email dari Istriku. Istriku dapat email dari temannya. Temannya dapat email dari temannya lagi. Begitu seterusnya. Kemudian aku berinisiatip menyampaikan kisah ini di blogdetikku agar bisa diketahui orang banyak karena ada pesan moral sebagai bahan renungan buat kita semua. Ini cerita nyata seseorang yang sungguh sangat menyentuh. Silahkan baca dan untuk dihayati.

Beliau usianya sudah tidak muda lagi, usia senja bahkan mendekati malam. Sebut saja Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya mengisi hidupnya dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikaruniai 4 orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan serasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudahtidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sore dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian. Selepas maghrib dia temani istrinya nonton TV sambil menceritakan apa2 saja yg dialami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, namun Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, mereka pisah tinggal dengan keluarga masing2. Sedangkan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawatnya. Yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kecil, kami menyaksikan bapak merawat ibu dan tidak pernah ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak pula mengijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya:
“Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.

Pak Suyatno hening sejenak seraya menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka:
“Anak2ku … jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian”.

Sejenak kerongkongannya tersekat, kemudian melanjutkan:
“Kalian yg selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak dapat dihargai dengan sesuatu apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sekonyong-konyong meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil air mata jatuh di pelupuk Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Pak Suyatno, sosok yang mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri istrinya yg sudah tidak bisa apa2 itu berpesan kepada kita semua:
“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya. Mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan hanya dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 … Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

Ngeblog bikin konag

Anjriitt…. ngeblog ternyata bisa nyandu. Bikin konag. Hare gene lom ngeblog, ke laut aja. Pada awalnya cuma ikutan trend, nyoba2 ngeblog. Biar dibilang up-date. Nggak gaptek. Lama2, rasanya ada yang kurang kalo nggak ngeblog barang sehari aja. Gue aja kali yah yang ngerasa gituh. Elo nggak kan?
Belakangan ini karena ada kesibukan yang betul2 menyita waktu sampe lupa ngeblog. Pas urusan dah beres, baru ngerasa kayanya ada yang kurang neh. Wah… ternyata dah berapa hari gue ngga posting. Nulis lagi ah. Mending gene dari pada ngerumpi yang gak mutu. Lewat blog rasa2nya segala uneg2 bisa ditumpahin. Lewat blog bisa nimba pengetahuan dari orang2. Banyak teman meski virtual. Punya kesibukan sampingan yang bisa ngilangin bete, boring, sumpek2 di hati dan pikiran. Blog is good for everyone. Ayo deh ngeblog rame2. Kalo bisa ngeblog hari ini, kenapa nunggu besok? Blogger kelak bakalan jadi komunitas bergengsi yang bisa memberikan kontribusi bagi perubahan kehidupan yang lebih baik di dunia ini. Salamku untuk seluruh blogger sejagad. Please accept me as one of you. Let’s keep the earth a better place for us to live as one.

Selamat atas pelantikan Dubes LBBP RI untuk Uni Myanmar

Kemarin, Senin, 14 Juli 2008, pk. 14.00, Presiden SBY melantik Bapak Sebastianus Sumarsono sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Uni Myanmar, di Istana Negara Jakarta. Alhamdulillah, pelaksanaan pelantikan berlangsung sesuai dengan yang telah direncanakan.

Saya beserta keluarga merupakan pihak yang ikut berbahagia atas pelantikan tersebut. Setelah menunggu untuk waktu yang cukup lama, sejak Februari 2008, akhirnya, saat yang dinanti-nanti tiba jua.

Melalui blog ini saya mengucapkan:
Selamat kepada Bapak Sebastianus Sumarsono atas pelantikan sebagai Dubes LBBP RI untuk Uni Myanmar, periode 2008 – 2011. Semoga sukses menjalankan tugas negara yang dipikulkan di pundak Bapak. Kepada Ibu Rien Sumarsono beserta keluarga, selamat berbahagia, semoga selama Ibu mendampingi Bapak dalam menjalankan tugas sehari-hari selalu berada dalam lindungan Tuhan YME dan sehat-sehat selalu. Amien.

Hare gene masih o’on aja !

Bulan Juni y.l. gue ngajuin permohonan cuti di luar tanggungan negara t.m.t. 1 Juli 2008 untuk jangka waktu 3 tahun lamanya. Permohonan itu kemudian diteruskan oleh unit terkait yang menangani kepegawaian kepada BKN. Tentunya ditembuskan juga kepada unit2 terkait, a.l. unit yang ngurusin keuangan. Permohonan gue tersebut sedang dalam proses. Hingga hari ini (8/7/08) lom ada keputusan yang menyetujui/mengabulkan or menolak permohonan gue itu.

Pada tanggal 1 Juli y.l., gue sempat shock juga karena gajih gue udah distop. Nggak dibayarkan lagi alias nihil. Kemudian coba ngecek ke unit yang ngurusin gajih. Nanyain hal ini ke pejabat bersangkutan. Yang bikin gue jadi bengong si pejabat bilang: elo kan lagi diproses pengajuan cutinya tmt 1 Juli 2008, makanya gajih elo juga udah distop per bulan Juli dong.

Campur aduk juga perasaan dan pikiran gue nerima kenyataan ini. Cuma yang paling bikin gue gemes, ini pejabat o’on-nya ampun2. O’on boleh aja tapi jangan nyusahin orang dong. Atas dasar apa gajih gue maen distop aja, karena lom ada keputusan apapun yang bisa dijadikan dasar hukum untuk menyetop gajih gue, maen eksekusi aja. Ini improvisasi yang sangat amat keliru sehingga menghasilkan sesuatu yang amat sangat merugikan orang lain. Hare gene masih o’on aja… ke laut aja deh lo !

Sekolah untuk rakyat

Bulan Juli musimnya nyari sekolah. Bulan ini tahun ajaran baru dimulai bagi siswa sekolah dasar sampai menengah. Bulan ini bulan yang meresahkan buat para orang tua yang anaknya lulus SD mo masuk SLTP, lulus SLTP masuk SLTA atau lulus SLTA masuk perguruan tinggi.  Kesibukan dan kerisauan yang luar biasa nampak di mana2. Gimana nggak, lha wong tiap tahun aturannya ganti2 terus, mending jadi lebih baik, malah tambah ngaco. Belon lagi soal biaya yang harus dipersiapkan. Depdiknas memang kurang ajar. Ngerobah aturan seenaknya. Maksudnya diimprove, tapi nyatanya cuma nambah nyusahin rakyat doang. Mereka yang bikin system dan aturan yang macem2 itu ngerti apa nggak sih dengan persoalan yang sebenarnya?

Di belakang perumahan gue tinggal ada sekolah SD dan SMP. Murid2nya jelas anak2 yang tinggal di sekitar sekolah itu. Rata2 orang tuanya golongan ekonomi menengah ke bawah. Kasarnya, maaf, kebanyakan para orang tuanya itu orang2 kampung yang miskin dan bodoh (sekali lagi maaf). Yang matapencaharian utamanya ngojek, nyupir angkot, jualan koran, ngasong serabutan, dlsb. Ini bukan untuk mendramatisasi. Tapi kenyataannya gitu.

Beberapa tahun yang lalu, ketika tangan pemerintah menggapai wilayah mereka, membangun sekolah di sana, mereka mereka merasa masygul dan tersanjung. Merasa jadi rakyat yang diperhatiin pemerintahnya. Inilah kesempatan buat mereka menyekolahkan anak2. Agar tidak bodoh seperti orang tuanya. Agar kelak mempunyai harapan dan masa depan yang lebih baik. Nggak seperti orang tua mereka yang hidupnya pas2an, senen kemis. Kemuliaan niat dan keinginan luhur setiap orang tua secara universal selalu mesti begitu.

Menyekolahkan anak jauh dari tempat tinggal memang bukan masalah bagi mereka yang ekonominya mampu. Tapi, nggak begitu bagi mereka yang tidak mampu. Ini jadi masalah besar. Karena akan timbul cost harian yang cukup besar dan memberatkan. Kalo ada sekolah yang dekat, di depan mata pula, kenapa harus sekolah jauh2. Gitu aja koq repot. Ini pemikiran logis dan ekonomis. Dapat dibenarkan dan diterima akal sehat. That is human reason.

Maka berbondong-bondonglah mereka menyekolahkan anak2nya. Untuk masuk SD bukan masalah. Asal anaknya cukup umur, badan sehat, daftar, maka si anak pun sekolah. Selamat nak. Kelak besar nanti jadilah anak bangsa yang bisa menjunjung martabat negara dan bangsamu .

Lulus SD, masalah mulai timbul. Mereka nggak bisa seenaknya lagi memasukkan anaknya ke SMP di lingkungannya. Sebagaimana yang mereka alami ketika anak2nya masuk SD. Mereka mulai kena jaring2 aturan dan system. Untuk masuk SMP dipersyaratkan NEMnya harus sekian s.d. sekian. Maka ketika didapati kenyataan bahwa NEM anak2 mereka tidak memenuhi kualifikasi yang diminta. Itu artinya anak2 mereka nggak bisa sekolah di SMP situ. Ini sudah peraturannya. Udah dari sononya. Harga mati, nggak bisa di-tawar2 lagi. Kalo anak bapak atau ibu NEMnya kurang, cari aja sekolah lain yang bisa nerima NEM segitu.

Dengan perasaan kecewa mereka terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Namun ketika banyak orang tua yang mengalami kekecewaan itu, ceritanya jadi lain. Akumulasi kekecewaan itu bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak.

Mereka sudah menyekolahkan anaknya selama 6 tahun di SD. Soal NEM anak2nya jelek, itu bukan urusan mereka. Tiap anak mempunyai given yang berbeda. Ndilala anak2 sekampung di sana kebetulan rada2 bolot otaknya. Terus mo gimana? Apa nggak boleh mereka melanjutkan sekolah SMP di lingkungannya?

Mari kembali pada filosofinya. Sekolah itu dibangun untuk rakyat. Sesuai amanat UUD untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kenapa mereka nggak boleh sekolah di lingkungan sendiri?  Kenapa harus ada aturan kaku yang jelas2 nggak pas untuk diterapkan?  Biarlah mereka sekolah di lingkungannya. That is nature. Berilah kesempatan kepada anak2 kita meningkatkan kembali kemampuan dan kecerdasannya yang sempat tertunda ketika di SD dulu. Jangan lagi menambah kesusahan rakyat dengan masalah yang satu ini. Sudah terlalu banyak persoalan yang menyusahkan kehidupan mereka. Sudah terlalu lama mereka menderita hidup di negara yang katanya sudah lama merdeka ini. Sekali lagi, biarkanlah sekolah itu untuk rakyat, bukan untuk siapa-siapa.

Sebuah catatan di akhir Juni 2008

Ini hari-hari terakhir masa kerja gue di kantor. Setelah melalui masa yang cukup panjang dan melelahkan, 27 tahun lamanya, insya Allah gue akan memulai kehidupan yang baru. TMT 1 Juli 2008 gue akan menjalani cuti di luar tanggungan negara untuk jangka waktu 3 tahun. Cuti di luar tanggungan negara itu analoginya kurang lebih seperti pita kaset yang dipause. Selama masa cuti, untuk sementara waktu status kepegawaian distop dan nggak digaji lagi sama negara. Selama menjalankan cuti tersebut, rencananya gue akan mendapat tugas baru di KBRI Myanmar. Rencana keberangkatannya kira-kira 2 minggu setelah Pak Calon Dubesnya dilantik oleh Presiden. Tapi sampai hari ini (28/6/08) beliau lom juga dilantik. Itu artinya posting gue ke KBRI Yangon juga jadi tertunda. Entah kapan, hanya Allah jua yang maha mengetahuinya.

Yang gue bingung, mulai 1 Juli nanti, gue udah nggak dapet gajih lagi. Sementara kebutuhan biaya hidup sekeluarga tetap harus, nggak bisa nggak. Kalo sekiranya punya tabungan, mungkin nggak terlalu jadi masalah buat gue. Tapi, ini jujur, gue bener2 nggak punya tabungan.

Anyway, apapun yang terjadi, gue harus survive, insya Allah. Terpaksa gue mulai ngelego barang inventaris yang ada. Alhamdulillah kemaren, Kamis, 25/06/08, ada orang yang beli soundsystem gue, tanpa menyebutkan merek, terdiri dari:
- 2 unit speaker (2 way), 15” Loudspeker dan 6” twitter;
- 2 unit speaker (3 way), 15” woofer, 10” medium, 6” twitter;
- 1 unit mixer 8 channel;
- 1 unit equalizer (1u);
- 1 unit effect vocal;
- 2 unit power amplifier;
- 1 unit speaker keyboard (300 watt);
- 1 unit power mixer 8 channel;
- 1 unit rak soundsystem;
- 2 unit stabilizer;
- 1 peti kabel2;
- 1 unit tiang mic
- 1 unit mic.
Semuanya total cuma dibayar Rp. 7,5 juta. Murah banget kan? Iya, kalo mo itung2an sih termasuknya gue jual murah. Yah… lumayan deh buat nyambung hidup sekeluarga. Gue hanya bisa berdoa, semoga ini cukup buat buying time sampe pada hari kepastian keberangkatan gue ke Yangon nanti. Apabila terjadi kemungkinan terburuk, yang ini sesungguhnya amat sangat nggak gue harapkan, tapi sekiranya itu terjadi juga (who knows?), mo jual apa lagi neh buat makan. Yang lebih miris lagi, bulan Agustus nanti gue mesti bayar uang kuliah anak, kost 1 tahun di Yogya serta biaya hidupnya. Wih…. seru juga neh. So what getu loh.

Doyan duit

Jujur neh, kalo ada makhluk di planet bumi ini yang doyan duit, itu pasti perempuan. Dikit-dikit duit. Mo ini duit. Mo itu duit. Dasar mata duitan. Orang Medan bilang: Ada uang abang sayang. Nggak ada uang abang ditendang. Masih nggak ada uang juga, abang dibuang. Kasihan deh lo. Tapi bener nggak sih? Nggak semua perempuan kaya gitu kali ye? Tapi, dari bermilyar populasi perempuan, paling hanya beberapa gelintir aja yang nggak doyan duit. Selebihnya….. doyan duit banget. Kalo lelaki laen lagi. No money, nodong. Abis gimana lagi? Dari pada ditendang ato dibuang sama yayang, lebih baik punya uang. Wakakakakakak……. :)

Ngelakonin hobi dibayar, uenak banget

Setiap orang rasanya mesti punya hobi. Macam2 bentuk ragamnya. Hobi itu suatu kesenangan yang sering dikerjakan orang ketika punya waktu luang. Bahkan banyak orang secara sengaja menyisihkan waktunya untuk melakukan kesenangannya itu. Namanya juga hobi. Maunya ya dilakukan terus. Gak ada bosennya. Karena seringnya melakukan hal serupa secara terus menerus, dengan hati senang pula, tanpa disadari menjelma menjadi suatu talenta di dalam diri seseorang. Coba aja perhatiin. Orang yang hobinya mancing, misalnya. Nampak kalo ia kelihatan lebih mahir ketimbang orang yang asal, yang cuma ikut2an doang.

Ketika talenta mulai terbentuk, dan terus diexcercise melalui hobi, maka talenta pun terus meningkat, bisa2 malah jadi seorang maestro di bidangnya. Dan ketika seseorang telah memiliki talenta yang dapat diandalkan, maka ceritanyapun jadi lain. Di belakangnya ada duit. Bisa jadi potensi yang dapat menghasilkan. Malah bisa jadi sumber matapencaharian. Barangkali itu enaknya kalo orang punya keahlian. Ngelakonin hobi dibayar, uenak banget. So pasti. Nggak dibayar aja dia seneng ngerjainnya. Apa lagi dibayar. Uuuuhhhh enak gila….

Ini cerita tentang bini gue. Dari kecil hobinya nyanyi sama maen musik. Sampe udah rumah tangga terus aja nyanyi dan bermusik. Waktu nikah dulu, mas kawin gue satu unit organ. Sekarang ini beliau boleh dikata cukup mumpuni (gak nyombong neh..) untuk kedua bidang itu. Talenta yang terbentuk berkat hobi kemudian beralih menjadi profesi. Seiring perkembangan jaman, mulai menjamurnya model hiburan organ tunggal, matching banget hobinya itu dengan kebutuhan publik. Bini gue sekarang profesinya sebagai enterpreneur organ tunggal: “MY Entertainment”.

show3.gifHingga sekarang bini gue masih tekun menapaki karir di bidang entertainment ini. Pengalaman dan jam terbangnya juga cukup lumayan. Sering dapet job mulai dari orang biasa sampe ibu menteri dan juga ibu wapres.

Ini tips bahwa hobi itu kalo dilakonin terus menerus secara bersungguh-sungguh akan menjadi potensi diri yang diujungnya tercipta manfaat. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga bisa membawa berkah buat yang lainnya. Salah satu bukti, yang gue alami, hobi bini gue ternyata bawa berkah buat bantu2 nambahin ongkos dapur. Alhamdulillah.

Badai hati

Istilah brainstorming sudah sangat populer di masyarakat luas. Pengertiannya adalah bila ada beberapa orang duduk (berdiri juga boleh sih) bareng2 dalam satu forum ngebahas tentang suatu topik atau isu. Forum kaya gini biasanya agak2 serius dikit lah. Itu bedanya dengan ngerumpi, yang isinya cuma pepesan kosong doang. Idealnya, di dalam forum ini siapa aja yang ikutan di sana bisa bebas ngasih pendapat. Tanpa batasan, hambatan apalagi titipan pesan. Boleh ngomong ilmiah. Boleh juga ngomong sembarangan, ngawur sekalipun nggak apa2. Dari situlah pemikiran bisa berbanding dan teruji. Memang maksudnya begitu. Agar semua pemikiran yang ada diucak-acik. Diaduk-aduk, persis kaya badai di alam nyata. Oleh sebab bolehlah kalo istilah brainstorming diterjemahin dengan badai otak. Forum seperti ini memang bukan untuk mendapatkan output. Tapi lebih untuk memperkaya wawasan sebagai bahan penetapan output nantinya.

Rasa-rasanya, tiap orang secara sendiri2, suka juga melakukan self-brainstorming tentang berbagai hal yang berkenaan dengan masalah yang sedang dihadapi dirinya. Pikirannya bergelut. Ketika masalah yang dihadapinya begitu banyak, bertumpuk, apalagi kalo ada yang mengandung unsur resiko tinggi. Ini mesti dipikirkan betul2. dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dianalisa kenapa begini, kenapa begitu. Tapi seringnya lama kelamaan otak akan jenuh. Malah jadi bebal, trus mentok.

Bila terjadi deadlock di otak, sebaiknya scroll kursor dipindah dari atas ke bawah. Dari otak turunkan ke hati. Endapkan di hati. Kontemplasikan. Biarlah masalah2 itu membadai di hati. Karena brainstorming aja nggak cukup. Perlu dilakukan heartstorming, badai hati. Karena Otak (baca: akal) itu cenderungnya kepada kalkulasi logis, sedangkan hati lebih dari itu. Hati bermain pada tataran wise. Insya Allah, jalan keluar yang diharapkan selain lebih optimal juga bernuansa nurani.

Ketik Reg spasi blablabla

Rasanya sering bener iklan kaya gini dijejelin ke publik setiap hari. Lewat tv, radio atau koran. Yang jadi sasaran publik yang punya telepon genggam. Iming2nya pasti menggiurkan banget. Bakalan dapet ini, dapet itu, biasanya barang mewah dan mahal. Atau diajak tur keliling ke negara antah berantah. Yang jadi pengiklannya selebriti. Jenis makhluk eksklusif, glamor, borju.

Iklan kaya gini racun. Ngerusak kantong. Ngapusi. Bisa bikin orang jadi tambah melarat. Ketika mangsa mulai coba2 masuk ke dalam perangkap, itulah saatnya the show goes on. Penyedotan pulsa mulai terjadi. Kirim sms dicharge (baca: pulsa disedot) 2000 perak. Dikirimin sms disedot 1000 perak. Nilai sedotan pulsanya variatif. Tergantung providernya. Sampe kapan? Ya trus sampe batas waktu yang mereka tentukan. Hadiahnya gimana? Ada. Yang dapet juga ada. Tapi jumlahnya amat sangat terbatas. Dan itu diperuntukkan bagi berjuta-juta orang. Wah, kalo gitu sih, sempit dong kemungkinan dapetnya. Ya iyalah, masak gitu aja susah mikirnya.

Iklan kaya gini sengaja menjajakan harapan. Karena mereka tau bahwa harapan adalah satu2nya milik terakhir orang susah yang selalu ingin diraihnya. Intinya memang di situ. Tega banget sih? Itu nggak penting. Yang penting gimana caranya bisa ngeraup duit, keuntungan, yang sebesar-besarnya. Mau dari orang susah keq. Mau dari siapa keq. Masak bodo. EGP. Meski dengan cara2 ngelabuin, ngibulin atau ngadalin orang.

Makanya, jangan mau dibodohi. Jangan mau jadi korban. Biarin aja mereka ngiklanin tiap hari. Biar sampe dower, cuekin aja. Emang enak?

Halaman Berikutnya »