“No Sacrifice, No Victory”
Dalam hidup orang selalu dihadapkan pada pilihan. Untuk mentukan pilihan, terkadang diperlukan proses panjang serta berbagai pertimbangan matang. Pilihan, mestinya merupakan sesuatu yang finally dianggap terbaik oleh si pemilih. Dan ketika pilihan tersebut diaplikasikan, jangan kaget apabila terjadi hal2 yang di luar perhitungan sebelumnya. Itulah resiko dari pilihan.
Waktu dapat tawaran bekerja di luar negeri, gue dihadapkan pada satu pilihan: you can take it or leave it. Kalo diambil nanti bisa begini begitu bla bla bla…. dstnya. Kalo gak diambilpun akan begini begitu bla bla bla…. dstnya.
Kerja di luar negeri, itu artinya akan dapat pengalaman baru, pengetahuan baru, dan yang nggak kalah menariknya, digajih dolar. Satu dolar aja dapat gajih itu artinya 9.100 rupiah. Konon lagi kalo gajihnya ribuan dolar, opo gak bikin ngiler rek, yo opo sih…. (Suroboyoan).
Bayangan bakal dapat gajih gede jadi motivasi kuat, pendorong utama. Akhirnya gue pilih: I’ll take it.
Singkat cerita, tiba di negeri seberang. Menjalani hidup baru, kerja baru, pengalaman baru, lingkungan baru dan gajihnya juga baru, dolar lagi…..
Tapi apa lacur…. yang namanya orang kerja digajih mahal, tentu harus diimbangi dengan pekerjaan yang ekstra keras pula. Tanggung jawabnya pun lebih berat juga. Itulah resiko atas pilihan. I take my risk.
Tantangannya sekarang, gue mesti survive, mesti tabah menjalani, mesti siap menanggung segala resiko. Buat elo2 pade yang pernah nonton film berjudul “Transformer”, ada pesan menarik yang bisa didapat, pesannya gini: “No Sacrifice, No Victory”.
(Terima kasih untuk anakku tercinta, Ageng Raditya. I luv u son, I miss u…. Inilah pengorbanan kita, pisah sementara untuk bekal masa depan kita…. BRAVO)

